#cinta
Cahaya di ujung lorong
StarrySparrow38
19 hari yang lalu 6 dibaca
Di sebuah sudut kota kecil, tinggallah seorang anak bernama Bima. Setiap sepulang sekolah, Bima tidak langsung bermain seperti teman-sebayanya. Ia harus membantu ibunya menyortir koran dan majalah bekas di lapak rongsokan kecil milik keluarga mereka.
Bima punya satu impian besar: ia ingin memiliki sebuah kamus bahasa Inggris lengkap bersampul tebal yang dipajang di etalase toko buku tua dekat alun-alun. Harga kamus itu seratus ribu rupiah, angka yang sangat besar bagi Bima.
Setiap hari, ia menyisihkan uang saku pemberian ibunya seribu atau dua ribu rupiah ke dalam sebuah kaleng bekas susu.
Suatu sore, ketika sedang merapikan tumpukan kertas koran lama, Bima menemukan sebuah dompet kulit berwarna cokelat yang terselip di dalam tumpukan majalah. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada beberapa lembar uang kertas ratusan ribu, kartu identitas, dan sebuah kartu kredit.
Hati Bima berdegup kencang. “Dengan uang ini, aku bisa membeli kamus itu hari ini juga,” pikirnya. Jemarinya gemetar menyentuh uang tersebut.
Namun, ia ingat pesan ibunya setiap kali mereka menemukan barang milik orang lain: "Rezeki yang bukan hak kita akan membawa beban di kemudian hari, Nak. Kejujuran adalah harta yang tidak bisa dibeli."
Dengan langkah pasti, Bima membawa dompet itu kepada ibunya. Bersama ibunya, ia mendatangi kantor kelurahan setempat untuk melaporkan penemuan tersebut.
Tiga hari kemudian, seorang pria paruh baya mendatangi lapak rongsokan mereka. Ia adalah pemilik dompet yang hilang. Pria itu sangat terharu karena di dalam dompet tersebut terdapat dokumen penting perusahaan yang tidak bisa diganti.
Sebagai bentuk terima kasih, pria tersebut memaksa memberi imbalan uang tunai yang jumlahnya cukup besar, namun Bima dengan sopan menolaknya. Ia hanya berkata, "Saya hanya mengembalikan yang bukan hak saya, Om."
Pria itu tersenyum lebar. Keesokan harinya, sebuah paket dikirimkan ke rumah Bima. Saat dibuka, di dalamnya terdapat kamus bahasa Inggris impiannya, lengkap dengan secarik kertas bertuliskan: “Untuk pemuda yang sangat kaya akan kejujuran.”
3